Semiotika Iklan Anti Korupsi

Analisis Semiotika Iklan Layanan Masyarakat

Anti Korupsi MTI dan ICAC

Abstrak

Kampanye anti korupsi telah digalakkan sebagai gerakan nasional. Demikian pula telah dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) yaitu Masyarakat Transparansi Indonesia merupakan usaha yang positif untuk menciptakan masyarakat dan pemerintahan yang bersih dan berwibawa serta untuk mengembalikan wibawa negara di kancah pergaulan dunia.

Ulasan iklan ILM oleh MTI maupun lembaga LSM global yaitu ICAC (Independent Commission Against Corruption) yang memang peduli akan keadaan di beberapa negara yang tingkat korupsinya  sudah cukup mengkhawatirkan untuk disadarkan bahwa korupsi tidak akan membawa kebaikan justru akan merugikan dan menghancurkan bangsa dan negara. Masyarakat perlu disadarkan akan pentingnya pemberantasan korupsi sampai dengan ke akar-akarnya. Karena masyarakat belum sadar akan bahaya yang mengancam tersebut dan seolah telah menjadi budaya. Analisis Semiotika Iklan Layanan Masyarakat Anti Korupsi Masyarakat Transparansi Indonesia dan ICAC akan mendapat interpretasi makna yang penuh dengan tanda-anda visual baik secara verbal dan nonverbal. Melalui pendekatan semiotika C.S. Peirce dengan teori triadic Peirce dalam proses semiosis dan Roland Bartesh dengan ungkap makna tanda secara denotative dan konotative.

Kreativitas terlihat dalam pengungkapan tata cara komunikasi iklan agar tepat sasaran perlu dilakukan dalam pembuatan iklan layanan masyarakat. Ada 11 karya iklan layanan masyarakat tentang anti korupsi yang di analisis dengan pendekatan semiotic yang penulis ambil dari websitenya MTI, telah terbit disekitar tahun 1998 s/d 2001.

Kata kunci : iklan layanan masyarakat, semiotika, anti korupsi

Analisis Semiotik Semiosis

Analisis yang dilakukan dalam pengkajian makna tanda visual dalam unsur-unsur iklan anti  korupsi MTI dan ICAC lebih mengungkap makna denotative dan konotative bahasa verbal dan visual dalam permaknaanya oleh interpretan yaitu dengan cara ungkap dari pengetahuan penulis yang berlatar belakang studi keilmuan desain komunikasi visual. “The interpretan is not the in the interpreter”. Interpretan menurut Eco adalah membuat suatu tanda berlaku sebagai tanda. Dengan demikian interpretan adalah proses kognitifnya.(Hoed, 1994: 111)

A sign, or representamen, is something which stands to somebody for something in some respect or capactity. It addresses somebody, that is creates in the mind of that person an equivalent sign, or perhaps a more developed sign. That sign which it creates I call the interpretant of the first sign. The sign stands for something, its object. It stands for that object, not in all repsects, but in reference to a  sort of idea, which I have sometimes called the ground of the representamen (pierce, 1986:5)

Suatu tanda, atau representamen, merupakan sesuatu yang menggantikan sesuatu bagi seseorang dalam beberapa hal atau kapasitas. Ia tertuju kepada seseorang, artinya didalam benak orang itu tercipta suatu tanda lain yang equivalen, atau mungkin suatu tanda yang lebih terkembang. Tanda yang tercipta itu saya sebut sebagai interpretan dari tanda yang pertama. Tanda menggantikan sesuatu, yaitu objek-nya, tidak dalam segala hal, melainkan dalam rujukannya pada sejumput gagasan, yang terkadang saya sebut sebagai latar dari representamen (Budiman, 2004:49).

Peirce defined the study of semiotics as the “doctrine of signs”, in his view the word ‘signs’ indicates anything that “stands to somebody for something in some respect or capacity” (Peirce 1958:228 cited in Danesi 1994:4). Peirce’s model of ‘Triangular Relation’ (Danesi 1994:6) can be used to illustrate his notion of the relationship between the sign, the interpretant and the object. (Rabeca, http://www.aber.ac.uk/media/Students/rbs9701.html,)

Relasi di antara representamen, objek, dan interpretan ini membentuk struktur triadic.

01

Sumber: Rebecca Stone, http://www.aber.ac.uk/media/Students/rbs9701.html, diakses 2005

Proses tiga tingkat (three-fold prosess) di antara representamen, objek, dan interpretan yang dikenal sebagai proses semiosis ini niscaya menjadi objek kajian yang sesungguhnya dari studi semiotika. Jika interpretan, seperti dikatakan sebelumnya, tiada lain adalah tanda yang pada giliranya dapat beroposisi sebagai representamen, maka pada dasarnya objek pun demikian. Objek dapat bergeser posisinya menjadi tanda, didalam struktur triadic ini. Dengan kata lain, proses semiosis adalah sebuah rangkaian yang tidak berujung pangkal, tanpa awak dan akhir: sebuah semiosis yang tanpa batas (unlimited semiosis) (Budiman, 2004: 53).

Jadi, sebenarnya yang menjadi focus dalam kajian semiotic adalah semiosis itulah dan bukan tanda saja. Pierce menyebut proses seperti di atas sebagai proses triadic karena mencakup tiga unsure secara bersama, yakni tanda (T) hal yang diwakilinya (O), dan kognisi yang terjadi pada pikiran seseorang pada waktu menangkap tanda itu (interpretan, I). Pikiran adalah proses kognisi itu semiosis tidak terjadi.(Asmanto, 2003:58)

Pada kasus-kasus tertentu dalam bidang komunikasi periklanan, gambar sering tampil lebih dominan ketimbang unsur kata-kata (teks iklan). Gambar dalam pandangan semiotic adalah tanda (Asmanto, 2003: 56).

Dalam pembuatan iklan anti korupsi yang menjadi kajian ada 11 karya iklan yang secara periodik dapat diinterpretasikan tanda dan maknanya secara bebas oleh yang menangkap iklan tersebut baik pencipta maupun objek yang dijadikan sasaran dalam hal ini masyarakat yang dikenai pesan iklan tersebut.

02

Analisis Semiotika Denotative dan Konotative

Tayangan iklan baik di media cetak maupun di media elektronik, sangat menarik untuk dikaji. Iklan sebagai salah satu bentuk media budaya, memiliki beberapa fungsi yang mirip dengan fungsi mitos, yaitu adanya keinginan atau tujuan tertentu pada masyarakat pendukungnya dan karenanya mencoba melegitimasinya melalui suatu cerita yang membawa pesan tertentu dengan tokoh yang sentral dan dianggap superhero. Seperti halnya dengan mitos, iklan sering menampilkan putusan-putusan social yang bersifat kontradiktif, munculnya model yang menampilkan identitas tertentu, dan berada pada tataran norma-norma social (T. Cristomy, 2004: 192).

Dalam proses memaknai sebuah teks media iklan tidak lepas dari unsur kebahasaan atau dalam ilmu liguistik tentang semiologi yang berkait dengan makna denotasi (langsung) dan konotasi (tersirat).

Dengan kata lain tanda pada sebuah sistem linguistik menjadi penanda dan petanda dalam sistem mitos dan kesatuan antara penanda dan petanda dalam sistem itu disebut “Penandaan”. Barthes menggunakan istilah khusus untuk membedakan sistem mitos sebagai bentuk dan petanda sebagai konsep. Kombinasi kedua istilah seperti disebut di atas, merupakan penandaan.

Untuk lebih jelasnya, lihat bagan sebgai berikut:

Bahasa : Mitos

Penanda (signifier) Bentuk (form)

Petanda (signified) Konsep (concept)

Tanda (sign) Penandaan (signification)

Pada kenyataannya bahwa penanda dan petanda membentuk sebuah tanda dari kebahasaan dan tanda inilah yang menjadi sebuah penanda untuk penanda yang berbeda dan tanda dalam bahasa asli. Jika kita melihat dari segi mitos, penanda (yang merupakan tanda dalam bahasa asli) disebut bentuk, sedang petanda adalah konsep dan tanda yang dihasilkan berasal dari proses perasaan.

Kita melihat keseluruhan tanda dalam sistem denotative berfungsi sebagai penanda pada sistem konotatif atau sistem mitos. Seorang analis di bidang tanda berkewajiban untuk menunjukkan fungsi denotasi dan konotasi yang membentuk tanda-tanda yang dipahami banyak orang. Hal ini berarti mereka harus menjelaskan proses penandaan dan berati menyederhanakan konsep-konsep yang telah digambarkan oleh Bartes sebagai elemen-elemen penting dalam sebuah mitos. (Berger:2005: 56-57)

Di samping itu, sebuah citra sebenarnya bukanlah suatu struktur yang tertutup karena, setidak-tidaknya ia berkomunikasi dengan sebuah struktur lain, yaitu teks. Dalam hal ini, apa yang dimaksudkan dengan teks adalah susunan kata-kata, perkataan-perkataan, atau kalimat-kalimat yang bersifat parasitic dan sengaja didesain untuk mengkonotasikan citra. Oleh karena itu, tipe pesan yang kedua in dapat disebut pula sebagai pesan lingual (linguistik massage) yang hadir di dalam nyaris setiap citra, entah sebagai judul, caption, artikel, berita pendamping, dialog di dalam film, balon kata dalam komik, dan sebagainya. Sebagaimana halnya pesan ikonik tadi, pesan lingual atau kebahasaan ini pun tersusun dari dua tataran, yakni tataran denotasi dan konotasi. Berkaitan dengan kedua tataran pesan ikonik, pesan kebahasaan ini mungkin dapat berfungsi sebagai penambat (anchorage) atau pemancar (relay) (Barthes, 1984:38-41;Budiman, 1999:91-93; Budiman, 2004: 72)

Dalam iklan anti korupsi citra (gambar/ visual/ ilustrasi) memiliki makna Penambat dan pemancar yang saling berkaitan dalam proses interpretasi makna iklan secara keseluruhan saling berkaitan erat. Akan tetapi yang cukup dominan adalah gambar visual sebagai penambat dan pemancarnya cukup sederhana tetapi cukup memberikan makna denotasi yang cukup kuat dan makna konotasi yang cukup kreatif bagi pembuatnya dalam menggali ide visual sebagai ikon atau citra serta mempresentasikannya ke dalam iklan yang utuh.

Analisis Semiotika Iklan

Berbagai tingkatan penandaan ini sangat penting dalam penelitian desain, karena dapat digunakan sebagai model dalam membongkar berbagai makna desain (iklan, produk, interior, fesyen) moral, spiritual. Tingkatan tanda dan makna Barthes ini dapat digambarkan sebagai berikut (Cristomy,2004: 95):

14

Analisis menggunakan model pendekatan makna denotasi dan konotasi dari Barthes ini baik untuk menguraikan bahasa symbol tentang makna yang terkandung dalam sebuah karya iklan yang ditampilkan dalam 11 karya tersebut.

Kebanyakan iklan yang terbit itu adalah buatan dari ICAC. ICAC adalah LSM global yang peduli dengan pemberantasan korupsi yang ada di seluruh dunia. Ilustrasi dan visualisai dari iklan tersebut tampak smart. Dalam arti bahwa iklan tersebut cukup menarik. Orang akan cenderung untuk melihat dan merenung apa maksud dari pesan iklan yang ingin disampaikan ke komunikan.

03

Iklan 01

Sebelas iklan yang telah terbit itu ada satu penggarapan iklan yang saya lihat kurang bagus. Ini mungkin menyangkut hal teknis. Sehingga tampak janggal atau kurang enak bila kita menikmatinya. Lihat iklan 01. Tampak headline dengan latar belakang warna hitam, kelihatan hanya ditempel di belakang kertas hitam sebagai background keseluruhan karya iklan.

Demikian pula untuk fotonya, kelihatan seperti ditempel saja. Untuk keyword, seolah digarap tampak tidak center dengan latar belakang warna kotak hitam. Jadi keseluruhan visualisasi itu kelihatan digarap dengan teknik kolase, mulai dari headline, foto, dan keyword-nya. Untuk mengambil jalan pintas, keseluruhan desain dengan teknik kolase (tempel) tersebut kemudian baru di-scanner. Atau memang perancang tidak menguasai teknik dalam lay out dengan aplikasi software desktop publishing dari sebuah penggarapan iklan cetak. Sehingga sangat disayangkan hasilnya tidak maksimal.

Visualisasi dari unsur fotografi yang telah diedit dengan menghilangkan face/ muka dari koruptor berdasi disimbolkan kebanyakan para koruptor adalah kaum pejabat atau penjahat kerah putih yang notabene para kaum intelektual yang tidak punya rasa malu dan moral yang bejat. Sehingga disimbolkan dengan badan berdasi dan kepala yang tidak punya muka yang berarti sudah tidak punya rasa malu. Hal ini dipertegas dengan headline yang berbunyi “Corruption Has No Face”.

Iklan kedua adalah menampilkan visualisasi sepatu tentara dan seekor katak dengan punggungnya terdapat tulisan “corruption” seolah-olah akan diinjak oleh sepatu tentara dengan headline “Squash it, in all its forms”. Lihat Iklan 02.

04

Iklan 02

Visualisasinya sudah digarap dengan serius dan cukup menarik. Teknik Fotografi dan pengolahan penggabungan unsur visual sepatu tentara dan katak kelihatan sudah diedit dengan pemikiran dan layout yang matang. Unsur semiotika yang dibangun oleh penampilan iklan tersebut cukup menarik penulis. Semiotika yang berarti ilmu yang mempelajari system tanda visual ataupun verbal yang mengandung arti konotatif dan denotaif penuh arti bagi audiens yang melihatnya untuk mempersepsi sebuah pesan yang disampaikan secara semiosis.

Katak disimbolkan sebagai koruptor dan sepatu tentara (lars) disimbolkan dengan aparatur atau masyarakat yang tegas memberantas korupsi tanpa pandang bulu siapa yang melakukan akan digilas. Mungkin itu yang dapat penulis artikan dari penggambaran iklan tersebut. Kemudian dipertegas dengan headline yang kuat akan maknanya yang berarti akan menggilas dan membersihkan sampai kapanpun dengan istilah di format.

Pemilihan typografi yakni jenis Avangarde dan futura dari kedua iklan di atas sederhana, cukup mewakili dari eye cathing audiens untuk sebuah komunikasinya. Bila mata adalah yang pertama akan menangkap dari simbol atau makna isi pesan itu sendiri.

05

Iklan 03

Ilustrasi iklan dengan headline “You can’t disguise corruption” pada Iklan 03 di atas adalah gambar atau lukisan sekelompok domba. Bila kita amati ditengah kelompok domba tersebut ada seekor srigala. Hal ini dimaksudkan mungkin sebagai ilustrasi bahwa koruptor banyak ada disekeliling kita.

Ada pepatah yang mengatakan srigala berbulu domba. Jadi makna simbolik dari ilustrasi diatas dimaksudkan agar berhati-hati memilih orang atau teman yang ternyata berhobi korupsi. Dan memang lama kelamaan srigala berbulu domba tadi akan ketahuan belangnya dan tidak akan lepas dari jeratan hukuman. Hal ini dipertegas dengan headline yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah “kamu tidak bisa menyembunyikan korupsi” dengan latar belakang garis merah yang tebal, menunjukkan pada kita untuk waspada akan adanya tindakan korupsi disekeliling kita. Ilustrasi dalam iklan ini adalah menjadi titik perhatian yang utama disamping dipertegas dengan headline ber-background warna merah.

06

Iklan 04

Korupsi telah merajalela dapat berwujud sebagai simbul parcel ataupun hadiah yang diberikan ke pejabat atau orang tertentu yang mungkin masyarakat menganggap sesuatu yang lumrah atau wajar dalam usaha meraih tujuan agar dilakukannya itu tercapai. Atau istilah yang cukup popular adalah uang suap/sogok. Orang yang melakukan penyuapan dan yang mau menerima suap dari orang yang menyuap untuk mendapatkan proyek pemerintah adalah suatu tindakan kriminal dari unsur KKN. Iklan ini dapat dilihat pada iklan 04.

Kejahatan penyuapan begitu arti dari headline yang berbunyi “Bribery Crime” adalah peringatan kepada kita untuk mewaspadainya. Ilustrasi di atas adalah cukup jelas merupakan simbolisme bentuk tindakan kriminal dengan uang sogok dan pencucian uang haram yang telah dilakukan kepada negara dan penipuan pejabat kepada rakyat banyak patut mendapatkan hukuman yang setimpal dan seberat-beratnya kalau perlu sampai dengan seumur hidup seperti kasus Jeffry Woworuntu yang telah menipu pemerintah dengan menerbitkan letter of intens kosong berakibat bobolnya bank BNI 45, sehingga negara rugi trilyunan rupiah.

Visualisasi dengan mengambil objek fotografi dari sebuah tangan yang sedang berjabat tangan dan sekarung uang dollar yang seolah-olah diberikan ke seseorang dengan headline “Bribery = Crime”, serta bayang-bayang dari headline-nya dapat berarti kegiatan suap-menyuap itu telah membayangi semua kegiatan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Sehingga kata Bribery (suap) dan simbul “=” berarti pernyuapan sama artinya dengan tindakan kriminal.

07

Iklan 05

Pada iklan yang ditampilkan pada iklan 05 sudah berbeda dari bentuk iklan yang sebelumnya. Unsur Typografi sebagai visualisai keseluruhan dari iklan sangat dominan. Iklan tersebut berbunyi “fight against corruption” menggunakan pilihan jenis huruf times new roman dan futura bold. “Fight against” menggunakan jenis huruf times new roman berarti menunjukkan keseriusan untuk perang dan melawan (memberantas) korupsi sesuai dengan karakter jenis times new roman yang berserif adalah huruf serius. Ketegasan itu diberi warna biru. Kemudian “corruption” dengan pilhan huruf jenis futura bold juga berarti ketegasan korupsi benar-benar telah menodai kehidupan bermasyarakat dan bernegara dengan warna hitam jelaga. Di antara tulisan corruption ada pesan tentang accountability, integrity, loyalty, trust, cooperation dan dedication, yang berarti tanggung jawab, integritas, kepercayaan, kooperasi dan dedikasi yang telah diberikannya telah musnah karena orang yang diberi kepercayaan telah melakukan korupsi dan membohongi publik. Hanya sayang iklan yang ditampilkan tersebut tidak ada baseline, yaitu sponsor yang ikut disertakan baik simbul ICAC dan MTI itu sendiri yang berkompeten sebagai LSM yang menyerukan anti korupsi. Sehingga bila ada alamat ICAC ataupun MTI masyarakat dapat melakukan sharring informasi yang berkaitan dengan kasus-kasus korupsi.


08

Iklan 06

Iklan 06 memperlihatkan ilustrasi sebuah sosok silhoute manusia telanjang bulat sambil memegang uang dengan santai. Kemudian ada tangan yang menunjuk ke arahnya, tetapi ekspresi orang tersebut tidak merasa malu kalau dia telanjang. Ini menunjukkan bahwa korupsi telah terjadi terang-terangan di depan hidung kita, dan orang tersebut tanpa merasa malu seolah sudah merupakan budaya yang halal/ lumrah. Penegasan pada headline dengan kalimat “It’s not just between two people” menunjukkan bahwa korupsi itu tidak hanya dilakukan satu orang, tetapi sudah membudaya dan banyak orang. Hal ini ditegaskan kembali pada sub headline yang kedua yaitu “corruption affects everybody” bahwa korupsi telah mempengaruhi semua pikiran orang dan sama halnya dengan “drug”. Keseluruhan iklan layanan masyarakat pada nomor enam ini tampak sederhana dan smart (cerdas), sehingga orang mungkin akan tertegun sejenak untuk melihat dan memahami dari pesan yang ingin disampaikan dari iklan tersebut, karena ilustrasi visual merupakan kekuatan yang cukup kuat meskipun hanya dengan satu warna yang cukup kuat pula.

09

iklan 07

Pada iklan 07 terlihat agak ekspresif yang mungkin sesuai dengan gejolak jiwa si pembuatnya. Seolah penggambaran ilustrasi tersebut seperti ilutsrasi mural pada dinding yang lusuh, terlihat ilustrasi sebuah tunas yang mau tumbuh. Di situ ada headline dengan kalimat “Corrupotion Nip In the Bud” yang diarrtikan mungkin berarti bahwa korupsi menghambat laju sebuah SDM untuk tumbuh dengan baik. Tunas disimbulkan sebagai orang yang akan tumbuh dewasa baik mental, spiritual dan inteletual tetapi hancur dan patah di jalan karena hambatan kecil yang menghadang di perjalanan menuju kedewasaan yakni sebuah korupsi itu. Sehingga moral sumber daya akan habis ditengah jalan, tidak seperti yang diharapkan. Pesan peasn yang lain missal himbouan tentang korupsi akan merusak semua orang. Di akhir ilustrasi iklan tersebut terdapat kata kunci dengan kalimat “It’s up to us you realis” yang mungkin berati itu adalah realitas dan di hadapan kita terserah semua orang yang akan menyikapinya. Dan kerusakan moral korupsi tersebut akan merembet ke semua orang.

10

iklan 08

“Coruption it’s no joke!” itulah headline yang menjadi ikon simbolik dari iklan 08 ini. Bila kita artikan bahwa korupsi itu bukan permainan, atau sebuah kesenangan semata. Hal ini adalah serius kita harus memberantasnya. Jadi pada headline dengan akhir kalimat joke! yang berarti lelucon/ main-main diberi tanda seru diharapkan kita terus waspada terhadap orang yang melakukan korupsi. Korupsi bisa menimpa siapa saja bila lengah akan terkena dampak kecanduan. Ilustrasinya adalah gambar seorang joker kartu remi yang akan memberikan kartu dollar ke semua orang yang ingin korupsi, sehingga harus waspada.

11

iklan 09

“Blow The Whistle” adalah sebuah headline untuk iklan 09. Artinya mungkin memukul atau menghentikan kegiatan korupsi dengan pukulan yang telak dan hukuman yang mungkin orang tidak akan melakukannya lagi. Segala pelanggaran tentang korupsi harus ditindak dengan keras dan tegas sehingga orang akan berjalan pada rel yang benar dan tidak akan melakukan korupsi. Ketegasan ini nampak pada “body copy” sebagai penjelas headline dan ilustrasi yang ditampilkan adalah sebagai berikut;

“Corruption behavior is a breach of; public trust resources and money. Corruption has a detrimental effect of the whole community corruption affect us all, so …. blow the whistle”

Perilaku korupsi adalah suatu pelanggaran atas; kepercayaan publik sumber daya dan uang. Korupsi telah merugikan, korupsi efeknya menyangkut keseluruhan masyarakat serta mempengaruhi kita semua, maka….dipukul dengan siulan.

Maksud dari penjelasan body copy tersebut adalah perlu ketegasan dan hukum masyarakat terhadap orang yang melakukan korupsi dengan peraturan hukum yang kuat yang didukung oleh seluruh masyarakat dan pemerintah.

Penggambaran ilutrasi sebuah peluit dalam hal ini ICAC sebagai lembaga swadaya (LSM) dunia yang peduli untuk terus menyerukan tentang bahayanya korupsi, dengan background warna hitam terkesan cukup menarik perhatian dengan kasus yang kelam, bahwa korupsi merupakan persoalan negara dan masyarakat dalam menjalankan pemerintahan di beberapa negara sangat menonjol bahkan sebuah negara bobrok dan jatuh miskin karena kasus korupsi.

12

iklan 10

Integrity costs you nothing. What does corruption cost you?” Dengan ungkap kata pada headline iklan 10 yang cukup menarik tersebut dapat diartikan bahwa sebuah integritas seseorang adalah abstrak apabila kita belum menyelami watak dan mental seseorang tersebut benar-nenar bersih dari korupsi. Apakah integritas seseorang dapat dibeli dengan uang? Apabila iya berarti orang tersebut memang seorang koruptor dan bila menjadi pemimpin ataupun yang kita percayai akan itegritasnya, maka tidak layak lagi sebagai panutan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya telah musnah dengan sekejap. “Mata” sebagai simbul kejelian ketika melihat seseorang itu dapat dipercaya atau tidak adalah abstrak. Maka apabila kita sudah berhadapan dengan kasus korupsi yang memang telah membudaya di negeri ini kita harus memberantasnya sampai dengan ke akar-akarnya.

13

Korupsi jauh dari rahmat. Jadi bila seseorang telah melakukan korupsi maka secara spriritual orang tersebut memang telah jauh dari amalan yang baik dan berbuat keburukan atau kenistaan yaitu korupsi Tuhan akan menjauhkan dari segala rahmat-Nya. Ilustrasi dan huruf yang dipakai adalah cukup klasik dengan ilustrasi nampak dua orang wanita dengan perbandingan orang yang sama persis. Cuma yang satu ada penggambaran malaikat kebaikan dengan cahaya lindungan tuhan diilustrasikan sebuah lingkaran kuning di atas kepala wanita tersebut. Dan ilustrasi disampingnya adalah seorang wanita yang semakin mengecil dan tidak ada cahaya lingkaran kecil di atas kepalanya dengan didampingi penggambaran malaikat yang tampak lesu. Jadi kebaikan dan kepercayaan moral yang diberikan masyarakat akan musnah begitu saja bila seseorang terbukti telah melakukan korupsi dan jauh dari rahmat tuhan karena kenistaan yang telah diperbuatnya.

Kesimpulan

Keseluruhan pesan dalam iklan layanan masyarakat oleh MTI dan ICAC adalah cukup smart (cerdas) dan mampu membangun image (citra) akan pentingnya pemberantasan korupsi di muka bumi ini yang telah membudaya yang akan menghambat lajunya pembangunan negara untuk menciptakan pemerintah dan masyarakat yang bersih dan berwibawa.

Kreatifitas komunikasi visual iklan anti korupsi tersebut sudah mampu ditangkap maknanya yang universal dengan penjelasan gambar yang kreatif dan cukup menggelitik orang untuk lebih mengerti akan iklan yang ditayangkan MTI dan ICAC. Sayangnya hanya ada beberapa gambar mungkin dapat ditangkap oleh sekelompok orang tertentu yang mengenal gambar tersebut dari budaya eropa tentang seorang monalisa (iklan no.11) dan patung dijaman romawi atau yunani yang terkenal dengan patung-patung dewanya (iklan no.06)

Sebaiknya tim kreatif dari MTI sendiri mencoba menggali dengan pendekatan kreatif bahasa simbul yang ada didaerah dan mungkin lebih dapat ditangkap makna tersebut dengan pengungkapan dari etnik nusantara yang telah menasional sehingga dapat dimengerti oleh masyarakat Indonesia.

Pengungkapan kreatif visual tidak hanya dengan permainan warna atau ilustrasi saja, tetapi juga permainan unsur tipografi yang digarap dengan baik dapat menghantarkan makna dari keseluruhan iklan yang dibuat tersebut. Hal ini dapat terlihat di iklan no.05. Makna iklan dicoba divisualisasikan secara ekspresif pada iklan no. 07, yang agaknya berbeda dengan tampilan iklan lainnya yang dibuat nyata. Kreatifitas makna dapat ditangkap maknanya jika didukung dengan bahasa verbal yang terlihat pada naskah iklan tersebut.

Semiotika Triadic Pierce agaknya menjadi ikon dalam rangka brainstorming dalam tema-tema iklan anti korupsi secara semiosis mampu menggali ide kreatif dalam pemaknaan visual dan verbal sebagai tanda, objek dan interpretan yang kaya makna.

Saran

Itensitas Iklan Layanan Masyarakat tentang korupsi perlu ditingkatkan lagi. Demikian pula pemilik media cetak dan elekronik untuk disentuh kesadarannya, agar selalu menayangkan iklan anti korupsi. Untuk media cetak agar menayangkan ILM dalam bentuk iklan display, ataupun yang lain misalnya dalam bentuk iklan banner disetiap terbitannya. Demikian pula media televisi dan radio untuk menyiarkan adlib ILM anti korupsi di setiap jeda iklannya. Bisa berupa iklan berdurasi 30 detik, running teks ataupun banner.

Sebagai pengingat akan pentingnya pemberantasan korupsi perlu juga dipasang poster dan billboard di tiap sudut kota ataupun di mall-mall. Cinderamata berupa sticker untuk ditempelkan di tiap kendaraan baik roda dua ataupun mobil, dengan gerakan anti korupsi perlu didukung oleh setiap eleman masyarakat yang peduli akan KKN. Sehingga cita-cita masyarakat akan pemerintahan yang bersih dari KKN akan tercapai meskipun diperlukan waktu dan pengorbanan yang panjang untuk meraihnya.

Untuk eksposure yang tinggi dan cakupanya luas lebih efektif menggunakan media televisi. Karena kemampuannya yang mampu mengkonstruksi social masyarakat dan jangkauan yang sangat luas, sebagai media lini atas yang paling akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur , 2003 Semiotika Komunikasi. Penerbit: Remaja Rosdakarya, Bandung

Alex Sobur , 2004 Analisis Teks Media, Penerbit: Remaja Rosdakarya, Bandung

Artur Asa Berger ,2005, Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kotemporer, Penerbit: Tiara Wacana, Yogyakarta

Benny Hoedoro Hoed,1994, Dampak Komunikasi Periklanan, Sebuah Ancangan dari Segi Semiotika, Jurnal Seni Vol. IV/ 02 April

Charles S. Pierce. ,1986, “Logic as Semiotics: The theory of Signs,” dalam Robert E. Innis (ed) Semiotics: An Introductory Reader. Penerbit: Hutchinson, London

Dendi Sudiana ,1986, Komunikasi Periklanan Cetak, Penerbit: Rosdakarya Bandung.

Korupsi , http://www.transparansi.or.id/about_corruption/index.html, Akses: Rabu, 26-01-2005 jam 13.30,

Kris Budiman , 2004, Semiotika Visual, Penerbit Buku Baik. Yogyakarta

Kris Budiman ,2004, Ikonisitas, Semiotika Sastra dan Seni Visual, Penerbit Buku Baik. Yogyakarta

Panuti Sudjiman, Aart Van Zoest ,1996, Serba-serbi Semiotika, Penerbit: Gramedia Pustaka, Jakarta

Sumbo Tinarbuko, 2000, Semiotika Desain Dagadu Djogjakarta, Jurnal Seni Vol. VIII/ 04 Juli

T. Cristomy, Untung Yuwono ,2004, Semiotika Budaya, Penerbit: Pusat Penelitian Kemasyarakata dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta

Umberto Eco, 1979, Theory of Semiotics, Penerbit: Indiana University Press, Bloomington

Yuli Asmanto , 2003, “ Simbul Budya Tradisional Pada Iklan” dari sudut pandang semiotic dan strategi periklanan, Tesis S2, Pegkajian Seni Yogyakarta

Rebecca Stone,2000, A Semiotic Analysis of Four Designer Clothing Advertisements http://www.aber.ac.uk/media/Students/rbs9701.html,

Iklan

2 thoughts on “Semiotika Iklan Anti Korupsi

  1. Semiotika adalah sebuah ilmu untuk memaknai maksud dalam pesan kebahasaan. Bagaimana mamahami makna komunikasi visual dalam iklan sosial?Beri komentar saudara, kritik dan saran sangat diharapkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s